Langsung ke konten utama

Sarung Bantal Mahasiswa


Rintik titik waktu, rintik-rintik gagasan hari-hari panjang terus menjadi nutrisi baru pertumbuhan pembuluh ide. Di luar sana ada banyak pemikiran pemikir radikal yang selalu merayap dalam adu argumentasi pergerakan. Tidak ada yang melarang kita semua untuk memunculkan kembali ide tersebut dalam kontes kampus maupun organisasi, karena mau saja meragukan. Meski jalur ide tersebut hanyalah lewat buku tanpa ada orang yang dengan jelas memahamkan kita. Maka banyak dari kita, kritisi-kritisi berpendapat bahwa buku adalah kisi-kisi buruk noda pengetahuan, karena jalan fikir menodai idealisme ideologi. Benar.

Tidak semudah itu. Mungkin lebih tepatnya adalah bentuk penyampaian analisa bukan menciderai idealisasi. Entah-berantah itu semua adalah hasil perenungan pada saudara dalam satu rumah ini, dua jalur pandang, dan jalur proporsi, sederhana saja, entah menurutmu. Jangan katakan terlalu malas untuk sekedar tahu.

Pagi demi padi dilaluinya, entah siapa. Pemikir sekaligus penggiat kerangka-kerangka radik bertebaran tepat di satu atap ini. Mereka masih tidak malu-malu meninggalkan paginya untuk melingkuk-lingkuk depan tungku perapian bak musim salju. Mereka semua muslim, yang suatua waktu ini mengantarkan ia untuk sejenak berani meninggalkan ruang fikirnya dmi ruang fikir lain, hati-hati dan lalui. Tidak baik bila dikatakan para pemeras buku, membiarkan lelap jati dirinya hinggap di kehangatan dan lupa dengan keadaan yang sebenarnya, persis dalam satu sempel saja sudak tidak berimbang.

Alur likunya menjadi daya tarik tersendiri, adalah dahulu bangsa kita sendiri pun membuktikan aminan ide itu serta membungkamkan konsep-konsep tersebut. Tiga hal yang pasti sebagai pengibaratan, yaitu adanya hak bebas bersendawa, bersin tanda kesegaran fikir, ataupun kentut busuk yang siap-siap dikebiri waktu-waktumu karena akan diasingkan label tidak pantas. Semua itu adalah wujud pengibaratan periodesasi fase kritis aktifis gejolak dinamika bangasa. Bapak prokamator pun berusaha menggabungkan tiga sisi yang berbeda ini dalam kontek berbangsa adalah Nasakom, nasionalis, agama, dan komunis, sungguh perpaduan yang epik pada masanya.

Grand desain yang penjadi pokok perbincangan adalah tiga naluri tersebut untuk di akurkan dan diterima-paskan sebagai produk hasil proses berbangsa. Pertama nasionalis, faham ini memberikan kosa-kata yang baik untuk menyatukan keberagaman insan sampai skararang. Agama adalah kebutuhan dasar yang berbentuk spirit pengawal kehidupan, lebih intim dari rasa nasionalis. Komunis adalah satu contoh bentuk transformasi dari faham marxis-sosialis-kerakyatan kebebasan berbentuk kesetaraan tanpa kelas agama, kelas sosial yang berpayung nasionalis.

Lintas sejarah memberikan sebab uraian penting bahwa tujun itu hanya kerukunan berwujud muamalah, yang terpenting dalam kepentingan orang lain. Orang lain itu adalah saudara kita lintas ideologi, lintas agama, dan lintas sosial. Bila di eja adalah banyak faham yang ada, akan tetapi yang banyak menyoroti para sebutan aktifis adalah ide nasionalis, agamis maupun sosialis. Para penganut ide itu sekarang terbukti dengan partisipasinya dalam wadah kawah candra dimuka sendiri-sendiri. Akan tetapi kelompok yang lebih besar adalah kelompok agamis yang sudah patriotik maupun berhati baik bagi sesama.

Pergerakan mahasiswa adalah baur ide dan logi tersendiri pilihan setiap individu tergantung pengaruh yang diterima dalam lingkungan mereka, keadaanlah sebagai penggerak nuraninya. Akan tetapi anehnya kampus Islam negeri banyak menghasilkan banyak peleburan pola fikir, ide gagasan, bahkan peleburan kondisi. Organ-organ mahasiswa di penuhi orang yang terjebak dalam dilema kegelisahan selalu adalah minoritas terhadap faham-fahab baru-baru ini. Mereka bernama jamaah nyaman bersatu, agak sedikit lucu tapi pantas. Jamaah ini dihiasi oleh kompilasi faham yang terpenting kita bersama-sam lulus senang dan cepat kerja yang gandrung dengan kebiasaan foya-foya waktu. Sedikit berfikir buruk.

Sebelum melihat realitas dunia, maka tidak benar bila titik waktu dalam time line sejarah ini tidak selalu kritis terhadap realitas pasar. Para minoritas yang tergabung dalam berbagai himpunan maupun kongko-kongko ini, dari waktu kewaktu di sadarkan oleh keadaan baru. Tepatnya sudah berumur 74 an tahun setelah merdeka ini, berbeda tentunya dengan keadaan rentang waktui 5- 10 tahun yang lalu apa lagi 20-30 tahun yang lalu. Tegaslah sudah berbeda. Masa-masa dimana ada banyak keinginan yang menjadi cermin diri, “bila tidak demikian tidak menarik, kondisi pasar ini adalah tantangan baru yang wajib disikapi sembari membangun ide-ide relevan juga praktek langsung keluar batas wilayah aman”.

Dalam dunia mimpi ini kita bebas bernegosiasi, bebas meloncat lenting kesenangan apa yang kia cita-citakan. Tapi mimpi di pagi hari bahkan sampai siang bolong maupu rekor sampai sore dan mendekati gila bila sampai malam adalah realitas buruk protet hidup kita. Fakta membuktikan bila mimpi ini sampai berefek langsung ke dunia nyata, lihat saja geliat samudra pengetahuan mengalir anggun tanpa dosa di peradaban kecil pelupuk wacana mereka, saking derasnya iya sampai memberikan bahwa flat eart itu benar-benar nyata berbentuk kotak dengan setiap lentik persis membentuk pulau, semacam motif gunung bahkan wujud nyata monster di atasnya.

Mimpi ini tak baik bila diterjemahkan dalam arti bahasa kebanyakan faham. Mimpi ini harus di torehkan dalam tinta-tinta dan di pukul-pukulkan ke lembaranan demi lembaran dengan penuh amarah, emosi, dan pertanyaan-pernyataan besar yang ganas. Ideologi yang telah hilang wajib di selami lagi konteks literasi maupun plagiasi, tidak apa-apa. Ada perkata bijak barwa bila tidak mempunyai buku pinjam buku dari orang lain, bila tidak mempunya pandangan pinjam pandangan orang lain, bila sedang tak ber-ide pinjam ide orang lain, dan bila sampai tidak punya otak jangan bodoh untuk meminjam otak orang lain, bahkan rampaslah semua itu bila perlu bila tidak mampu menyadarkanmu.

Sudah saatnya kita semua berbenah diri dengan menilai segala faham dengan mendalam jangan mencampur baurkan pandangan ide gagasan ini, tidak baik mempelajari ilmu itu bila setengah-setengah. Tidak perlu saling bertengkar antara kebanyakan kebebasan orang untuk memilih dengan tututan sifat organisatoris yang juga enggan mengingatkan wujud kedunguan diri, sebelum menprioritaskan orang tanpa bayang otak dengan semenamena. Bagai kecoa yang datang seperti monster yang bertarung berebut kuasa dalam dunia datar sampai membangunkan aktifitas intirahat sang aktifis dan pemain daring yang masih lusuh dengan dirinya sendiri.

Pola gerakan pemikir insan cendika adalah mereka yang datang dari berbagai latar belakang iya menyadai betul apa yang ia kerjakan. Pemberontakan yang terukur, dan banyak berjuang sesuai dengan dunia masing-masing. Cendekia itu lemah lembut dengan maunya iya belajar dengan hal berbeda sehingga tiada yang saling menghujat. Dalam kerangka yang idealis sangat boleh kita berfikir kedepan dengan prospek kerja tapi ingatlah, kita bukan tahi yang dibuang percuma. Jangan jadi jamur ditempat busuk, jangan jadi benalu di tempat yang tinggi, jangan jadi parasit yang tidak segan membunuh inangnya. Aktif sejatinya aktifis, semangat kerja sejatinya semangat visioner, jangan lupakan keberadaanmu. Bangun dan bertarunglah jangan jadi sosok-sosok pemimpi dalam sarung.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kader Organik HMI tak lupa ! Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh !!! Bahagialah dindaku Jayalah HMIku Halo kader manis yang setia baca tanpa tahu kalian akan diajak "ngalor-ngidul" kemana. Oke tak apa, yang penting sekarang mau saya perjelas kalau kalian saya ajak membaca kondisi rumahmu ini, ya HMI, lanjut tanpa bahasa basi. Terhitung sudah berbulan-bulan anak HMI mem-proteck dan menyandera diri sendiri kala wabah Pandemi ramai diperbincangkan, lebih sudah 5 bulan terhitung sedari pertengahan Maret 2020 kampus-kampus pun sudah ter- lockdown di seantero Indonesia.  HMI yang cenderung sosialis menjadi "kecut" ketika diminta sadar dan patuh kepada prokes yang berikan pemerintah, boleh jadi ini menjadi sebab timbul pemukiman serangga diantara buku-buku bahan diskusi, tapi tidak semua lelap, untung masih banyak juga keringat yang tetap dirasa cukup ber-kecut-kupan dalam membantu gerakan pengamanan wilayah dan aksi sosial entah sedang bergordon atau include dalam ...

POLITISASI PENDIDIKAN

POLITISASI PENDIDIKAN BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM Terdengar sangar dan nakal ya. Baik politisasi pendidikan, saya kira ini mengandung banyak pro dan kontra, dikotomisasi, dan paradok dalam pendidikan. Pertanyaannya, dmananya kita wajib menyikapi politisasi yang dimagsudkan ☕. Baik secara provesional edukasi wajib mengoraganisir sesuai kesesuaian kemampuan dan guru kepada apa yang diajarkannya. Dasarnya Allah menyukai orang yang mengorganisir. Firman Allah SWT dalam QS. Ash- Shaff / 61 :4, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”  Ditambah untuk meletakkan posisi seseorang sesuai tupoksinya agar tidak terjadi kehancuran.  Nah politisasi disini kita menghindarkan diri dan orang lain agar tidak asal merekrut orang2 penting dalam mengampu pendidikan. Saya menemukan fakta di tempat magang saya ada salah seorang yg bergelah sarjana pertanian s...

Integrasi Ormawa “Selayangkan dan pandangi”

  Organisasi mahasiswa adalah keniscayaan dalam dunia pendidikan perguruan tinggi, dalam ombak dinamika kampus, sudah terbukti mahasiswa sebagai elit pemuda dalam "laku" kajian penelitian dan mengabdi kepada masyarakat, termaktub jelas dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Tajuk yang kita hadapi bersama adalah mengenai bagaimana menjalankan Ormawa dengan benar sesuai kaidah yang baik, terlihat dalam periodesasi kepengurusan dan tupoksi lembaga yang jelas memberikan cermin yang baik kepada halayak pun status kemahasiswaannya mampu memberikan sumbangsi terbesar, dan tidak dengan semena-mena dalam memakai gelar tersebut. Realita sudah sering berdialok dengan sesama Ormawa dalam satu regional bahkan nasional, akan tetapi pandangan pembaruan belum juga memberikan dampak yang memuaskan, seperti pergantian IAIN menuju UIN ini, yang memberikan sejuta keganjilan yang perlu disikapi, seperti periodesasi tidak diimbangi regulasi peremajaan kepengurusan dengan tepat waktu, ini berdamak k...