Kontestasi mahasiswa berpeluang
besar dalam memberikan dorongan terbesarnya dalam membangun peradaban. Kampus
rumah besar tempat para insan ditempa menjadi akademisi generasi insan pengabdi
negara. Organisasi adalah tungku besar pembentuk karakter insan cendekia di
dalamnya. Pengaruh adalah dambaan bagi negeri, menunggu-nunggu peran aktif
insanya ini dalam berdialog dengan masalah-masalah pelik yang sedang dilalui.
Proses adalah pijakan yang membuat kami untuk aktif serta tidak berfikir
singkat dan memudahkan dalam lika liku proses pembelajaran.
Kampus yang megah adalah
kerajaan kecil untuk membangun mental (mental building) bagi penganut
kepercayaan bahwa dunia ini perlu adanya pendidikan. Panggung yang megah ini
semestinya menjadikan satu sandaran bersama bagi kami para mahasiswa yang
dahaga tentang cara bernegosiasi dengan sifat dan kelakuan nyata negri. Lapar
menjadikan ia untuk menjungkirbalikkan pemikiran mereka agar dilema-dilema ini
berfungsi dengan baik dalam proses perwatakannya. Karena hanya dengan laparlah
kami menjadi sosok brutal pencetus ide-ide brilian, tidaklah berlebihan.
Lika-liku di kampus bukan
menjadi masalah baru tapi menjadikan kami tersadarkan bahwa kami sedang di
rindu-rindu oleh hal baru tentang mekanisme dunia. Melalui kampus kami menjadi
tahu segalanya, tinggal kita mau apa tidak menyikapinya. Bukan hal yang tabu
lagi bila kami dengan sombong percaya bahwa kami, kita dan meraka adalah yang
berhak dalam mengatur wujud nyata agen oposisi terbaik pada masanya. Semangan
untuk mengontrol diri, golongan, institusi negeri bahkan dunia adalah jalan
terjal yang menunggu untuk direnangi.
Segelintir perjuangan ini
menjadi sebab kapasitas diri menjadi mau untuk terus ditingkatkan. Ibarat level
permainan tiada game over dalam kampus, yang ada hanyalah retry? Ulang, bahkan
bila fatal bisa kembali ke menu utama lagi. Ulangi apa saja yang menjadi
kesulitan dan beban akademik, ulangi apa yang memberitahu kamu pelajaran
penting tentang kepekaan sosial, ulangi hal-hal kecil yang mampu menyadarkan
setiap diri agar melihat dunia negeri rakyat ini dengan sudut pandang unik tak
tereja sedikitpun. Ya kami bisa, bahwa lika liku benturan ini tiada yang lebih
bermagna terlebih hanya sebuah perjuangan suci pada kelasnya. Makom manusia
adidaya.
Makom tertinggi si pembuat
onar adalah ketika ia mampu berekspresi dengan sungguh-sungguh yang mana itu
adalah hak untuk bebas. Kelas yang beda dari yang lain ini tidak enggan bahkan
untuk malu-malu dalam menentang kebiasaan kotor dan kolotnya dunia, yang ada
hanya idealisme. Paham ini disandarkan pada setiap insan bahwa kita perlu
berdinamika di dalamnya. Menyelami jauh kedalam dasar samudera kepercayaan
bahwa harapan akan selalu ada, masa depan bahagia adalah cerita yang mengangkasa
di benak lingkar jiwannya.
Banyak yang tidak tersadar
bahwa kita adalah sampan, dan sampan harus mengarungi tujuh samudera yang luar
binasa, maka apa yang dilakukan bila tidak ada persiapan sebelumnya akan
mustahil dilauinya. Dunia ibarat samudera luas penuh gulungan-guluang ombak
yang tidak memandang siapa ia, dia selalu tega menggulung dan melumatnya tanpa
belas kasiahan. Bayangkan bila tidak ada pegangan apa-apa di sana mampukah bertahan
dari ketenggelamnya sampai ke dasar. Maka selagi kano kecil ini bisa
diperbaiki, maka perbaikilah, bila sampan masih menjadi sampan maka tidak ada
kalimat penolakan bukan.
Tembok kampus, tembok kokoh
yang menjadi rumah para pembuat perahu, bukan para penumpang perahu saja. Ia tahu
jadi, ia tahu naik semata, terlena menyesatkan kita dalam pejalanan panjang yang
disongsong kedepan. Bukan itu yang di tujukan. Misi besar ini menjadi salah
bila sifat-sifat biasa untuk berbiadab ini tetap ada, dan itu sekarang ada,
berserakan pula. Gilir mudik desiran pahatan coklat hanya menjadi bahan dasar
kutipan jalan benyusun yang cukup hanya diperdebatkan. Atrinya bila teori
sekarang hanya berlabuh di ingatan dan diberi ruang dalam omong osong pembicaraan
saja, alhasil mungkin kapal kita akan karam dan terdampar di pulau tak
berpenghuni, pulau tempat berpulang sejati mereka-mereka yang lemah, kano kotor
berserakan dan terdampar dalam keadaan berserakan pula. Jangan sampai!!!
"LIKA-LIKU DERITA SAMUDRA PENGETAHUAN, BUKAN MASALAH, OPTIMIS"

Komentar
Posting Komentar