Muhamad Singgih Gumiwang *guegigula*
Perkembangan proses berkomunikasi di media sosial belakangan ini mengarah pada proses komunikasi yang menimbulkan kegaduhan publik dan merugikan pihak tertentu. Tren yang berkembang dalam proses komunikasi di media sosial terlihat dari begitu mudah orang menumpahkan egonya, kabar opini yang memekakkan telinga tanpa memikirkan perasaan orang lain, caci maki alias cyber bullying, saling menghujat, saling mencela, penyumbang pecahnya konflik, memojokkan dan menghakimi orang lain, dan dan yang terakhir ini adalah isu corona atau Covid 19 yang sejak awal diedarkan sebagai hoak dan indonesia bangga pandemi ini tidak menyerang Indonesia, tapi hari ini berkata lain pandemi ini malah menyerang di seluruh belahan daerah di Indonesia yang awalnya hanya ocehan hoak indonesia tidak terkena Pandemi Corona di media sosial.
Tampak jelas bahwa telah terjadi krisis etika berkomunikasi melalui media sosial. Media sosial sebaiknya dapat menjadi wahana untuk mendudukkan proses dialog yang sehat dalam berkomunikasi agar terwujud harmonisasi. Media sosial sejatinya menempatkan proses dialog yang memberikan ruang atas semakin meningkatnya kesejahteraan sebuah komunitas masyarakat sekaligus menjadi platform dalam rangka menciptakan diseminasi gagasan secara rasional dan menyejukkan. Nampaknya sejarah singkat perkomuniukasian ini memang relatif baru dan tidak ditemui di era yang dulu, dan meledak akhir2 periode ini atau sering di sebut era Millenium Ketiga ini.
Dengan demikian, diperlukan kajian etika komunikasi untuk mencari standar etika apa yang harus digunakan oleh komunikator dan komunikan dalam menilai di antara teknik, isi dan tujuan komunikasi di media sosial. Benar nampaknya gimik yang menjadi wajah baru dalam beretika ini sudah terlanjur di ekspresikan di media sosial, seingga tujuan dan orientasi yang semula bertujuan sebagai penyelaras arus informasi, berubah total menjadi ladang untuk menjugje orang lain, apalagi saat “musim Corona” seperti saat ini, miris memang pandemi ini dibuat bahan bercanda dan diperjualbelikan sebagai konten tidak bermanfaat seperti marak yang ada sekarang ini.
Begitu mudah orang menumpahkan berita bophong, tidak kredibel, amarah atau opini negatif tanpa memikirkan perasaan orang lain. Begitu mudah orang memojokkan dan menghakimi orang lain, tanpa berpikir pentingnya memastikan kebenaran informasi atau analisis tentang orang tersebut. Dan, begitu sering orang terlambat menyadari bahwa apa yang diungkapkannya di media sosial telah tersebar ke mana-mana, menimbulkan kegaduhan publik dan merugikan pihak tertentu (Sudibyo, Kompas, 18/10/2016). Imbasnya orang yang merasa gugup terhadap wabah pandemi menjadi strees dan mengira dirinya sesak nafas, gelisah dan batuk batuk kecil sudah mengira dia terkena virus korona, akan tetapi setelah ditest hanya gejala tertekan dan strees akibat syok akibat adanya wabahnya, atau syok kulture tapi ini syok/tertekannya akibat berita yang tuidak-tidak.
Presiden Jokowi Dodo sampai sampai membuat video untuk melaksanakan protokol kesehatan dan bersikat tidak panic agar masyarakat Indonesia bisa secara sadar dalam m,elihat musim pandemi ini. Yang penulis herankan adalah Virus yang sudah menggurita diberbagai negara ini tidak secara disikapi pemerintah Indonesia, mengingat Orang imigran dari Negara China mendominasi arus imigran di Indonesia, nah sudah tahu Negara China adalah negara yang pertama mendapati kasus Covid 19 ini, malahan tidakan pemerintah diam dan kurang bersikat pro preventif agar seluruh masyarakat di negara imi tidak tertular oleh virus imporan negara lain ini. Buktinya Indonesia baru merespot setelah satru bulan lebih paska pandemi ini menari-nari bagian negara negara disekitarnya sampai masuk eropa bahkan seluruh Dunia. Hebatnya virus ini sampai masuk negara Italia yang mendapati sekarang negara yang paling tinggi kasus kematian terhadap virus morona ini. Sudah tenang dalam video itu sudah didingin dinginkan oleh Pak Dhe Jokowi tercinta.
Adanya transformasi berbagai bentuk media dalam berbagai bidang seperti fotografi, jurnalisme, film, dan lain-lain adalah pola baru yang kini kita hadapi, sepertinya orientasi dan dinamikanya pasti lebih tinggi amplitudonya dari pada media yang diawal-awal perkembangannya, kini media lebih ke visualisasi gerakan dan arus informatika yang cenderung berbasis data base Big data atau lebih interaktif. Beberapa teknologi yang di kategorikan sebagai media baru seringkali diidentifikasikan sebagai teknologi digital, dalam zaman dan konten kawari ini sering kita menemukan arus berita juga dikemas sedemikian rupa menjadi lebih humanis dan mudah untuk diakses, yang tentu mudah juga tidak ketinmggalan murah dan fasilitasnya yang mumpuni.
Biasanya teknologi-teknologi media baru ini mempunyai karakteristik yaitu dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padatm interaktif, dan cenderung tidak memilih. Menurut Feldman dalam Flew (2008), karakteristik dari media baru meliputi :
a. Pertama, media baru mudah dimanipulasi. Hal ini seringkali mendapat tanggapan negative dan menjadi perdebatan, karena media baru memungkinkan setiap orang untuk memanipulasi dan merubah berbagai data dan informasi dengan bebas. Sudah tahu wajar dalam design Intelegensi dapat memanipulasi suara dan mimik wajar, coba ada orang-orang yang tidak bertangguang jawab menyebarkan media yang tiba tiba ada dan didalamnya ada wajah Bapak Jokowi yang mencabut protokol keseharan atau melegalkan pelepasan akses locdown daerah tertentu, semisal Jakarta sebagai Ibu Kota, suatu saat di pagi hari, konten itu bermunculan dan bisa bisa meracuni seluruh Orang orang ibu kota sehingga wabah ini semakin bisa menjalar kemana mana karena orang-orang kira pandemi ini sudah aman lagi, bisa kita bayangkan kan huru haranya. Untuk akses digital hari ini sudah di ampu oleh orang pemerintah yang sudah memberikan platfom seperti kepada Jubir Corona sehingga potensi tak beretika yang seperti ini yang menyebabkan huru hara bisa dijaga karena sudah ada akses virtual yang kredibel untuk diambil informasinya, tapi hati hati penikmat media wajib cerdik akan hal semacam ini ya.
b. Kedua, media baru bersifat networkable. Artinya, konten-konten yang terdapat dalam media baru dapat dengan mudah dishare dan dipertukarkan antar pengguna lewat jaringan internet yang tersedia. Karakteristik ini dapat kita sebut sebagai kelebihan, karena media baru membuat setiap orang dapat kita sebut kelebihan, karena media baru membuat setiap orang dapat terkoneksi dengan cepat dan memberi solusi terhadap kendala jarak dan waktu antar pengguna. Semisal contoh dalam beretika difasilitas yang mudah ini. Penikmat media baru bisa mengirim informasi kebajikan, opini kredibel terbari, tips tip atai Corona dan Pencegahannya dapat dishare dengan mudah de nomor di kontak atau diposting sehingga penanganan kasus Covid 19 tidak merebak kemana dan dapat diakses secara berjamaah, seperti plaform WhatApp yang langsung bisa dikirim kepada grub, kontak, tautan dan dijdikan sarana berdiskusi mencari solusi, sangat beretika. Media lain seperti Twitter bisa kita kirim cuitan manis denganpemberian hastag contoh hastagnya, #Dirumahaja, #BrantasCOVID19 #Stoppenyebarancorona #IndonesiaBebasCorona dan macam macam sesuai kebutuhan atau yang tranding hari ini juga.
c. Ketiga, media baru bersifat compressible. Konten-konten yang ada dalam media baru dapat diperkeci ukurannya sehingga kapasitasnya dapat dikurangi. Hal ini memberi kemudahan untuk menyimpan konten-konten tersebut dan men-sharenya kepada orang lain. Apalagi kemudahan yang bisa ditawarkan media pada hari ini, dalam menganalisi penggunaan media daring ini, owner atau pemilik media sangat membanyu kemudahan pengguna yang ingin secara mudah menjalankan bercengkrama diera pandemi ini, dengan menggunakan seperti Youtube Go bisa melihat perkembangan Covid 19 di akun Youtube sehingga informasi kredibel bisa secara ringan dan mudah di akses oleh pengguna akun Media sosial. Dan dengan adanya chanel chanel yang sudah marak beredar, tentu pengguna dengan mudah mendapati akses yang low atau murah kuota dalam melihat video video yang ditawarkan.
d. Keempat, media baru sifatnya padat. Dimana kita hanya membutuhkan space yang kecil untuk menyimpan berbagai konten yang ada dalam mediabaru. Sebagai contoh, kita hanya memerlukan satu PC yang terkoneksi dengan jaringan internet untuk dapat menyimpan berbagai informasi fari berbagai penjuru dunia dalam PC tersebut. Oke ada namanya Infografik yang biasanya ditampulkjan dalammedia daring, temanteman penggemar literasi pasti akan tidfak asing dengan Tirto.id yang didalamnya ada infografik yang sifatnya padat ringkas dan berisi, sehingga orang-orang tidak perlu mengakses dan membaca secara keseluruhan, kita tahu warga kawakiri itu sangat suka sesuatu yang instan dan mudah, maka ini adalah jawaban yang efektif dalam memberikan pengalaman terbaiknya sehingga secara rating perusahaan jasa berita ini akan diuntungkan kaerena ratingnya naik dan mendapat posisi yang sangat menguntungkan dalam dunia jurnalisme, karena semakin banyak yang mengakses beritanya maka semakin sering orang membacanya, maka kredibilitas media daring ini akamn meningkat, progres.
e. Kelima, media baru bersifat imparsial. Konten-konten yang ada dalam media baru tidak berpihak pada siapapun dan tidak dikuasai oleh segelitir orang saja. Karena itulah media baru seringkali disebut sebagai media yang sangat demokratis, karena kapitalisasi media tidak berlaku lagi. Setiap orang dapat menjadi produsen dan konsumen secara bersamaan dan setiap pengguna dapat berlaku aktif disana. Akan penulis simpulkan sebagai buah simalakama ini, pertama akses itu mudah adalm menetukan konten yang digemari dalam membuat bahas informasi. Seperti Youtuber, yang membuat konten youtub, vloger yang suka berdendang dengan kameranya cukup meresahkan, karena bebas membat konten yang diinginkan, seperti Prank Corona dengan maaf menjilat toilet yang terkena corona maka konten semacam ini akan firal dan tidak bisa dibendung lagi, secara komersil media akan semakin berjingkrak jingkrak karena diguinakan oleh para user setianya, dari pihak pemilik konten juga diuntungkan jika mendapat penonton yang banyak maka pembuat konten akan mendapat orderan olshop atau di endors sehingga diuntungkan kedua belah pihak, but there are some many matter, yaitu ada dampak negatiftnya, pertama pemjat konten sekarang positif corona dan konten yang diberikan kepada publik untuk ditontok tidak berbau edukasi, dan sangat menyusahkan orang tua anak anak atau orang kurang bijak menontonya, sangat tidak beretika di era pandemi yang serba krisis ini malahan digunakan untuk membuat konten yang mencemaskan, sansi yang tegas akunya dan blokir akses ke media itu adar tidak ditiru atau bahkan dijadikan ajang coba untuk konten tandingannya. Dinamika ini nampaknya akan terus berubah sesuai kebutuhan dan pekembangan arus ekonomi, akan tetapi pandemi ini masih perlu banyak didukung dengan mengisinya dengan konten, ilmu, pesan, berita, tidakan sosial yang bijak, percuma objek pencipta media malah ditenggelamkan oleh arus media sendiri, manusia terbodohi oleh hasil ciptaannya sendiri.
Maka dalam buku Homo Sapien dan Homo deus, manusia akan berfikir bukan lagi out of the box atau in off the boc, akan tetapi whitout the box, yang memberikan gambaran manusia adalah makhuk yang buisa mencipta dan akan memberikan daya upayanya kepada ilmu pengetahuan dan menjadikan ia sebagai “tuhan baru” dalam dunia yang bersifat abadi karena tubuh manusia akan diregenerasi. Akan tetapi semua itu kita tarik hikmahnya dalam dinamika orientasi dan tujuan komunikasi yang mengindahkan etika yaitu akhlak, Islam memang setuju sebagai agama sekaligus sebagai tatanan nilai atau norma yang wajib kita junjung tinggi sebagai penghargaan tertinggi terhadap akal yang dianugerahkan oleh Tuhan yaitu Allah SWT. maka peran media atau lebih dalamnya adalah teknologi maju hari ini bisa di manfaatkan dan memiliki orientasi yang jelas.
Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti AI atau artivisial intelejen bisa diterapkan dalam robot dan digunakan dalam media pem belajaran. Kemampuan bedah dan teknologi kesehatan bisa diterakpan dam kemudahan proses proses kesehatan seperti, pembedahan, implan organ tubuh, regenerasi sel, bukan digunakan sebagai senjata biologis seperti model pandemi Corona ini, digunakan dalam militer sebagai opsi kesehatan tentara, buka sebagai bob pemusnah masl yang bisa membuat orang-orang seluruh dunia terinfeksi virus Covid 19 atau corona ini abhkan semacamnya sebagai bentuk pemngembangan yang sifatnya merusat dan tanpa sama sekali ada sifat humanisme di dalamnya. Selanjutnya perang digital dan ekonomi sekarang sudah terangkum dalam Big Data dan itu segang dipegang oleh pemilik media sosial sebagai entri baru untuk meracuni pengguna atau user media entah itu game, media daring, media sosial, media pendidikan dan korporasi komersil pendidikan sehingga dengan mudah menciptakan ketergantungan terhadap media yang mendominasi dan menguasai, yaitu monopoli arus media yang bisa membuat penggunanya kecanduan dan terforsir untuk selalu menggunankan.
Akhirnya media yang seharusnya humanis kepada manusia malah sifatnya represif dan memaksa manusia untuk digembalakan sebagai pundi pundi utama kapitalisme media. Semoga Allah menjaga kita dari kebiasaan buruk media baru saat ini, dan masyarakat pintar pintar dalam menggunakan media agar tidak mudah diperalat perusahaan media saat ini. Beretikalah dalam bermedia sosial dari 3S, saya sendiri, sekarang dan setiap hari. Semoga tulisan ini sedikit mencerakan. Amin
Komentar
Posting Komentar