Tulungagung merupakan salah satu kota yang menjadi basis pendidikan salam satu wilayah karisidenan yang mana terdiri dari kota Trenggalek, Blitar serta Kediri. Baik siswa dan mahasiswanya banyak yang bersekolah disini karena ada banyak sekolah formal terakreditasi lebih baik dibanding daerah asal mereka. Dalam wilayah kemahasiswaan, pelajar Tulungagung banyak yang berasal dari seluruh pulau Jawa, pulau Sumatra, sampai ada dari Patani, Thailand Selatan.
Kegiatan
pembelajaran yang ada di kampus terutama Institit Agama Islam Negeri
Tulungagung yang penulis aktif di dalamnya, banyak menemukan dedikasinya dalam
berbudaya yang dihadirkan disetiap agenda kegiatan kampus. Budaya itu ditampilkan
dalam event yang bergengsi seperti
dalam Dies Natalis IAIN, PSKM, Milad HMJ, seminar-seminar nasional, dan
peringatan hari besar Islam yang dikolaborasi dengan budaya lokal, seni tari
lokal maupun kontenporer terutama yang banyk ditampilkan. Contoh seni tari lokal
yang sering diperagakan dan menjadi kebanggaan Kabupaten Tulungagung sendiri
adalah tari Jaranan Jawa, Reyog Kendang, Tayub, Kentrung maupun Ketoprak
Banyak
kesenian lokal dalam acara-acara adat yang masih dijaga kesakralannya seperti
Bersih Nagari, Ulur-Ulur, Buceng Robyong, Manten Kucing, dan masih banyak yang
lain. Kalau dari segi makanan ada banyak ragam dan cocok sebagai wisata kuliner
seperti Lodho Ayam, Sate Kambing, Punten Pecel, Sompil dan masih banyak lagi. Budaya
Tulungagung menunjukan bahwa adat istiadat luhur masih terjaga keasliannya, meskipun
tetap harus dikawal terus dengan kebiasaan mendidik yang relevan serta peka
akan local wisdom yang ada, agar nantinya
keberadaan ini senantiasa lestari dan tetap menghati dalam setiap penghayatan
sehari-hari budaya bermasyarakatnya.
Pantai
Kedung Tumpang, Popoh, Sine, Sidem, Brumbun, Klatak, Gemah adalah wilayah
pesisir tulungagung. Bila penulis bandingkan dengan keadaan pantai selatan Trenggalek
mungkin ada kesamaan yaitu perjuangan ektra untuk merawat dan menjaga
kebersihan ekologinya agar tetap terawat dan tetap lestari. Pada setiap 21
Maret, ini bertepatan dengan Hari Hutan Sedunia mengajak kita untuk merenungi
bahwa pendidikan bukan sekedar pengetahuan untuk tahu semata, bukan sekedar
hitung-menghitung resiko, tapi mampu menyadarkan kita dengan ilmu yang kita
miliki untuk mengedukasi penduduk dari kemungkinan-kemungkinan buruk sikap
kotor mereka.
Sering
ditemukan banyak sampah yang berserakan karena berada di luar jangkauan
pembersihan petugas kota. Meksi ada petugas rutin pembersih pantai, bila tidak
ada respon untuk ikut andil dalam masyarakat maka percuma saja, ekologi pesisir
akan terus ternodai oleh limbah rumah tangga mereka. Ada banyak resiko limbah
itu bermuara ke hutan-hutan bakau di tepi sungai yang menuju laut sehingga
menciderai ekositem yang ada. Mayarakat pantai/pesisi adalah masyarakat
terpinggir, bila tidak disadarkan dan dipedulikan maka edukasi masyarakat
tentang pengendalian lingkungan akan diacuhkan.
Biasannya
manyarakat pesisir lebih banyak memiliki budaya yang lebih terjaga. Seperti di
daerah pesisir selatan Trenggalek yang berseberangan langsung dengan pesisir
selatan tulungagung, ada yang namanya labuh sembunyo/ sedekah laut. Meski terkenalnya
di Prigi, Trenggalek, maka tidak menutup kemungkianan di Tulungagung juga ada dengan
kemungkinan tidak semegah di Prigi. Rata-rata nelayan sangat memegang teguh
budaya karena mereka juga berpendapat bila budaya tidak diadakan rutin setiap tahun
atau sesuai weton jawanya maka akan menyebabkan musibah yang berbanding lurus
dengan hasil penangkapan ikan di laut. Pendapat ini didapat dari dialog santai
dengan para nelayan di pesisir pantai yang sudah membuktikannya selama
bertahun-tahun melaut.
Setelah
menilik data di detik.com, telah ditemukan bahwa nelayan Pantai Popoh
Tulungagung juga menggelar ritual adat Labuh Laut Sembonyo. Ritual ini sebagai
bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan hasil laut maupun
keselamatan. Prosesi adat diawali dengan mengarak aneka sesaji berbentuk gunungan
dan perahu dari Pendapa Pantai Popoh, Desa Besole, Kecamatan Besuki menuju
dermaga pelabuhan perikanan. Selanjutnya aneka sesaji dari hasil bumi tersebut
didoakan oleh sang tetua adat. Persis dan kemungkinan setiap pesisir pantai Indonesia
yang tetap berkeyakinan tentang adat ini, pasti tetap melestarikannya sesuai
dengan gaya khasnya di setiap wilayah-wilayahnya.
Penduduk
pesisir adalah penduduk yang memiliki tingkat kesenjangan yang tinggi, baik itu
dari ekonomunya taupun budayanya yang majemuk, maka pendidikanlah yang mampu mempersatukannya.
Maka sangat benar bahwa pendidikan toleransi yang tercantum pada pancasila
sudah menjadi materi wajib dari sekolah tingkat dasar sampai ke bangku
perkuliahan. Pentingnya menjaga alam juga masuk dalam pelajaran agama yang mana
manusia diturunkan untuk menjaga kesetabilan ekologi serta saling mengingatkan
sesama. Mengingatkan dengan budaya adat dan pendidikan umum sehingga
menciptakan manusia cerdas yang sehat dalam berfikir dan sadar dalam menjaga
alam sekitar beserta alur regulasinya, semoga bukti ini cukup sebagai bukti
tulungagung pendidikan yang berbudaya dan peduli dengan keadaan masyarakat
pinggiran. Sinergi pemerintah dengan rakyatnya.
Komentar
Posting Komentar