“Pariwisata saya terapkan sebagai leading sector. Pariwisata dijadikan sebagai leading sector ini adalah kabar gembira dan seluruh kementrian
lainnya wajib mendukung dan itu saya terapkan” pendapat Joko Widodo dalam Rapat
Terbatas. Presiden memberikan master clue
kepada negara untuk fokus kepada sektor kepemimpinan yang mana sebagai
sektor yang dipercaya sebagai penggerak pembangunan daerah, kode keras bahwa
wisata menjadi solusi pengembnagn daerah yang diamini oleh sebagian besar
rakyatnya dan diamini pula sebagai biang-lala sistem yang perlu dipercantik agar
tidak merugikan, sayang rakyat darurat mental-mental pembangun ini.
Sektor pariwisata menyajikan opsi manusia dalam berwisata
sebagai bentuk kebutuhan primer dewasa ini, juga dalam rangka pemerhati
lingkungan pada ekowisata. Produk dan pasar ekowisata yang berbasis masyarakat
dapat digunakan untuk mengembangkan community
based ecotourism di setiap lokal wisata pada ranah etnik setempat, ditambah
dengan media yang menawarkan fitur kece untuk memudahkan dalam aplikasi
keseharian masyarakat luas, sehingga menemukan informasi penting dari pelosok
bumi dari sisi-sisi pinggir yang tak terjangkau sebelumnya karena memang
benar-benar masih murni. Tool era ini memberikan model baru berupa kemudahan
penyampaian akselerasi data, masifikasi informasi-komunikasi, serta deretan
daftar populer trend wisata dapat di akses di setiap waktu, serta kemudahn lain
yang bisa ditawarkan di sana.
Internet salah satu media daring yang mengalami
perkembangan pesat terutama bidang visualisasi sebuah panorama, dengan gampang
dan gamblang ia meroketkan kabar terbaru seluk beluk dunia yang belum di jamah
kebanyakan orang, salah satunya adalah ladang potensi ekowisata. Tepat dimana
Eden tersembunyi yang menyiratkan keindahan untuk dibagikan dan dinikmati oleh
seluruh pasang mata yang sekedar nangkring atau yang action dan datang ke lokasinya. Kebutuhan yang satu ini sekarang
menjadi hal wajib untuk dieksplorasikan ke kancah dunia, dan mendapat apresiasi
tersendiri, sehingga dikenal, didatangi, disebarluaskan, serta memberikan
kesejahteraan bagi penduduk yang memiliki hak akses mengelolanya, akan tetapi
bagaimana bila didahului para investor, benar dan yakin, sangat menguntungkan
demi kebuntungan rakyat.
Awal millenium ketiga ini, Indonesia sendiri sudah
mengkampanyekan bahwa sektor pariwisata adalah daya tawar dan strategi untuk
memperbaiki kestabilan ekonomi rakyatnya. Dari rakyar, oleh rakyat, untuk
rakyat pariwisata Indonesia, hal sangat positif untuk segera di wujudkan demi
menyongsong citra Wanderfull Indonesia, wanderfull pula keadaan taraf hidup
bangsanya.
Tumbuhlah bisnis-bisnis model pariwisata konvensiona,l
yang di dalamnya ada himpunan Konseptor (akademisi), Pebisnis (swasta),
Community (Akselarator), Pemerintah (Pengatur), Media (Katalisator), dengan
sistem yang sedemikian rupa masyarakat yang membuka bisnis baru ekowisata versi
sederhana jelas bisa dikuasai para Pebisnis dengan model Pentahelixnya seperti
di atas. Ini yang menjadi Mimpi buruk ekowisata sistem sederhana, dengan mudah
dirusak karena kelalaiannya, baik dari sistem dan sumberdaya yang ada, bisa
dari modal atau model perizinan akses yang tak mudah penglola lokal dapatkan.
Pembangunan ekowisata menjadi polemik cantik dan bias
dalam proses babat lahannya. Kecenderungan rakyat yang lugu, memberikan
peranannya ketika sudah memberikan income semata, bukan setelah memikirkan
dampak yang bagaimana dalam legailitas wilayah wisata lokal asli yang semula
dijaga kemurniannya, bisa diatas-namakan daerah konservasi percontohan
ekowisata, lama kelamaan berdampah baik-buruk pada akhirnya.
Di wilayah pesisir selatan Trenggalek ada sejuta
pernak pernik keindahan alam dan segala macam ekologinya yang mulai pupus
dengan ketidak-siapan mental warga lokal dilihat dari warna dan suasana tempat-tempat
wisata yang ada, bisa jadi dibuka dari hutan yang masih alami, pantai yang
masih terawat, sangat disayangkan bila tingkat pertanggungjawabannya sangat rendah.
Ekowisata wisata bisa bermuka dua. Yang alih-alih pengenalan pantai terbaru,
terputih, bisa menjadi terburuk, terkumal, disaat banyak sampah plastik yang
berenang di sekitar kaki-kaki pengunjung, di belakang karpet sisa pembakaran
sampah yang tidak terolah pengurangannya secara sempurna.
Padahal ekowisata dimulai ketika dirasakan adanya
dampak negatif pada kegiatan pariwisata konvensional. Dampak negatif yang satu
ini bukan hanya dituturkan dan divalidkan oleh para peneliti lingkungan tetapi oleh
para budayawan, berbagai tokoh masyarakat dan seluruh pelaku bisnis pariwisata
itu sendiri. Dampak berupa kerusakan lingkungan, terpengaruhnya budaya lokal
secara tidak terkontrol, berkurangnya peran masyarakat setempat dan persaingan
bisnis yang mulai mengancam lingkungan, budaya dan ekonomi masyarakat setempat.
Pada mulanya ekowisata dijalankan dengan cara membawa
wisatawan ke objek wisata alam yang eksotis dengan cara ramah lingkungan.
Proses kunjungan yang sebelumnya memanjakan wisatawan namun memberikan dampak
negatif kepada lingkungan yang makin lama mulai dirasakan. Lalu sebabnya
ekowisata bertanggung jawab langsung dengan keasrian lahan lokal yang digagas
demi pemulihan pembangunan masyarakat, ada dua sisi mata uang yang sering tidak
disadari sebelunya. Maka pokdarwis atau komunitas lokal itu akan sangat
membantu dalam mengawal daerah-daerah wisata, baik pembabatan lahan, pengenalan
lahan, andil pada pencegahan perusakan dan dampak, edukasi masyarakat, advokasi
dengan pihak yang dirugikan, administrasi dan pendanaan, serta yang terpenting
publikasiannya. Sering saya temukan hanya para aktifis lingkunganlah yang tergerak
hatinya serta berhati-hati dalam menjaga lingkungan dan sebagai kontrol dari
para pelaku yang mengekploitasi lahan investasi asli lokal sebagai papan wisata
konvensional.
Di pesisir selatan Trenggalek juga, sebagai pesisir
yang kaya dengan sejuta manfaat terdapat dilema keindahan lingkungan, antara
sebagai objek wisata dengan objek limbah pindang yang tidak mengindahkan
lingkungan sungai yang bermuara di seluruh kebanyakan aliran sungai, di
pinggiran pantai tepat di rimbunnya pohon bakau yang tumbuh subur disana. Yang
mana berbagai tumbuhan bakau sebagai tempat peredam abrasi serta daerah
konservasi sekaligus ekowisata, mendapat dampak buruk akibat sampah-sampah yang
ada, bukan karena pembukaan lahannya untuk wisatannya akan tetapi dengan
aktivitas manusiannya. Pekerjaan rumah lagi untuk saling menjaganya.
Beruntung JAMBE/ Jaringan Aksi Masyarakat untuk Budaya
dan Ekologi sebagai pemerhati lingkungan daerah pesisir selatan masih tergerak
hatinya dalam kelola ekologi lingkungan sungai. Memang fokus sekarang ada pada
sektor limbah indistri pindang yang dari masyarakat sendiri mengeluh
terhadapnya. Limbah ini mengalir sepanjang sungai terkhusus desa Margomulyo,
Prigi dan Tasik Madu. Merekaa tidak tahu kemana harus mengadu, untuk
menyuarakan keluh kesah atas bau tak sedap yang setiap hari mereka helak, dan
beberapa sumur warga yang sudah terdapat limbah tersebut, hampir sama denga
masalah limbah di pantai Sidem, Tulungagung akibat limbah tambak Udang.
Rajinnya gerakan aksi bersih sungai ini digalakan,
sehingga mendapat apresiasi yang sangat bagus dari dinas PKPLH kabupaten
sendiri, mereka menawari kegiatan komunitas sehingga tercipta aksi yang lebih
besar lagi, yaitu Sosialisasi Penyadaran Masyarakat Akan Pentingnya Linkungan Hidup,
yang kemarin sudah terlaksana para rangkuman kegiatan besar berupa Festifal
Sungai Trenggalek pada 11 november tahun 2018 kemarin. Kegiatan didesain dengan
dengan berbagai lomba, yaitu lomba menulis surat kepada pembuang sampah dan
limbah. Ada lomba mewarnai maupun ber-selfi pada sketsa dan berlatar belakang
gambar aku dan sungai, ada lomba daur ulang sampah unorganik, dan yang tak
kalah menarinya adalah lomba salto di sungai dan gravitasi batu (susun batu di
sungai), yang menjadi daya tawar tersendiri bagi masyarakat untuk ikut
menyemarakannya.
Festival tersebut dihadiri oleh ribuan peserta, juga
dari ribuan orang dari dalam dan luar kota Trenggalek untuk bersimpati ria
dalam semangat bersih lingkungan sungai. Serta tak kalah pentingnya, kedatangan
para ahli lingkungan hidup dan oleh para senior pegiat sadar kebersihan
lingkungan ber-sarahsehanan sama di kesempatan setelahnya. Oleh Dinas
Lingkungan hidup mendapat sponsor, sehingga hampir menelan dana sejumlah 100 jt
(seratus juta rupiah), dara tersebut berasal dari Pemkab (pemerintah kabupaten
dan dinas PKPLH) sendiri.
Di penghujung tahun 2018 komunitas ini bersama-sama
dinas PKPLH melakukan giat normalisasi sungai, dengan alat berat yang berguna
untuk penataan kembali bentuk dan kedalaman sungai. Projek kedepan dengan
mengharap ridho Tuhan, untuk me-loby dan berkolaborasi dengan dosen kimia dari
Kota Malang untuk mengubah limbah cair untuk di uraikan menjadi pupuk, guna
mereduksi jumlah limbah yang sudah banyak mencemari lingkungan.
Sungguh masyarakat sekarang krisis kepekaan, maka
perlu bantuan serius dari komunitas semacam ini karena kebanyakan masyarakat juga
bergumam saja, mereka berkecenderungan pasif dan hanya loyal ketika berkaitan
dengan dana yang ada, sungguh ironi dan miris memang. Isu ini pun sampai kepada
badan lingkungan hidup, maupun Bupati beserta wakilnya dan jajaran Pemkab
Tengggalek. Lantas masifikasi komunitas ini mensinergikan dengan para aktifis lain
beserta masyarakat untuk segera dan bertindak dimulai dengan euvoria gerakan yang
menyenangkan dahulu, dan wajib mendatangkan jajaran pemangku wilayah setempat
sekolah, dinas, dan yang lain. Masyarakat harus benar-benar bersama-sama belajar
merubah karakter dan contoh buruk kebiasaanya.
Emil menambahkan, “instansinya juga digerakkan untuk
melakukan sosialisasi kepada seluruh pengusaha pemindangan ikan terkait
pengelolaan limbah yang dihasilkan. Sehingga tidak dibuang sembarangan ke
sungai.” (Bupati Trengalek, sekarang Wakil Gubernur Jatim). Selain limbah
pengolahan ikan, pihaknya juga menemukan sejumlah fakta lain yang ikut
memperparah kondisi pencemaran sungai di wilayah Margomulyo dan sekitarnya.
Salah satunya kebiasaan msyarakat yang membuang sampah rumah tangga ke sungai, yang
lagi-lagi menyoroti masyarakat yang telah lalai pada obyek daya tarik wisata
menjadi luntur. Dilansir dari media daring, Jatim news.
Masyarakat di ajak membenahi area lokasi secara keseluruhan
bukan hanya spot yang berpenghasilan semata, lingkungan disekitar dalam
perjalanan wisata juga dibenahi, karena berpengaruh langsung dengan tingkat
minat dan kemistri para wisatawan. Selanjutnya bila tetap seperti ini, semua
pariwisata konvensional, lingkungan, akan makin subur sampahnya bila di kelola oleh
mereka yang tak sadar arti pentingnya lingkungan dengan kehidupan manusia,
semua saling berpengaruh. Dan untuk konsep ekowisata yang bertujuan dalam konservasi
lingkungan jangan sampai menjadi semakin rusak sehingga hanya ada dua pilihan
menjaga yang tetap ada denga cara-cara yang dituntut tepat guna betul, atau
sama sekali tidak di ekspose keluar kita biarkan keasriannya, kira-kira kita
semua biarkan tetap sakral dalam bingkai penjagaan alam dan segelintir manusia
yang sungguh-sungguh cinta dengan lingkungannya, sungguh paradok ekowisata.
Terlebih harapan baru timbul, dengan mencuatnya
berbagai kelompok aktivis peduli lingkungan, yang menambah keyakinan masyarakat
terhadap pengambilan dan ekploitasi oleh oknum tak bertanggung jawab. Ada
JAMBE, NIPONK, ORARI, dan masih banyak lagi, ia banyak berjasa dengan berbagai
manuver dengan perangkat desa, dan para mahasiswa yang bergerak pulang ke desa,
sehingga akselerasi ini bisa saling melengkapi dan berpeluang besar untuk
dikembangkan ke bentuk wisata tanpa merusak sistem dan lingkaran habitat
makhluk lokal khas daerah setempat. Sungguh tanggung jawab yang tidak bisa
disepelekan.
Tulisan ini terinspirasi terhadap keadaan wisata
daerah selatan Trenggalek ter-CINTA.
Komentar
Posting Komentar