Langsung ke konten utama

Seputar Opini: adalah upaya membuang kata-kata tidak substansial yang kami yakini bisa ditabung untuk menghindari kebanyakan wacana. 

episode 1: "fenomena anak bungsu"

mengapa saya selalu malas kalau mau menulis, mengapa saya lebih memilih memberikan kesan negatif saat mulai menulis, mengapa anak bungsu atau adik saya lebih suka menulis dan mendapat prestasi ketimbang saya yang kepingin dapat juara tapi tidak pernah selesai saat menulis, sangat memprihatinkan seperti anak pertama yang kalah imut dengan anak bungsu, itu menurut saya

anak bungsu di keluarga saya sering saya kesankan dengan anak yang malas, tidak mau dituntut dan semaunya sendiri, berbeda dengan saya yang suka membenci malas, wajib menuntut diri dan selalu memikirkan orang tua dalam artian sok bertanggung jawab, begitu yang saya rasa.

tidak lepas disitu, sedikit riset saya seputar anak yang bungsu yang tidak benar ingin saya perdalam, satu mengapa anak bungsu memberikan kesan lebih santai dan terlaksana daripada ia yang jelas anak sulung yang mengira dirinya mampu mempertangguhkan seluruh kepentingan dalam egonya saja.

pertarungan nampaknya tidak berujung pada hubungan darah anak bungsu dan anak sulung yang hanya rebutan pilih chanel tv kesukaan atau hal-hal sepele yang menjadi perjuangan tersendiri dinamika rumah tercinta, perang dingin dimulai siap siap remote tv diselundupkan dan kuasai posisi strategin memilih tempat duduk di ruang tengah keluarga.

tidak penting kita membicarakan ini sebenarnya, tujuan saya mencari sudut pandang dari apa yang terlintas dan memperbarui sedari hal yang sederhana yang memungkintan kita baca ulang dan kita ingat ingat momen terbaik masa kanak kanak yang tidak jarang semua anak rasakan, sangat interpretasif, tidak apa manusia ada yang rebutan siapa yang harus bersekolah ataupun rebutan pilih diantar dengan mobil ferrari atau BMW.

fenomena anak bungsu akan saya berikan dalam sudut pandang didikan, disclaimer saya adalah mari bermanja manja dengan kondisi sempit terpojok atau bahkan kecil, itu seperti anak bungsu yang mendapatkan sisi terimut dalam keluarga dan mendapat sorotan yang bagus meski bungsu justru jitu dan menjadi "itu" dalam kumpulan"ini"

fenomena anak bungsu adalah fenomena yang jarang disadari oleh orang tua, dan mendapat kacamata berbeda dengan si bungsu sendiri, dalam hidup yang saling menghudupi ini kita bertemu cerita orang orang yang terselamatkan dengan memposisikan menjadi anak bungsu ditengah lingkungan keluarga perjuangan agar memiliki cara pandang yang berbeda dan berhasil membalik kondisi sebagaimana orang lain bayangkan.

cara menjadi anak bungu adalah dengan memposisikan diri menjadi orang orang yang selalu berhenti dalam dunia belajar, belajar diintimdasi walau diri sendiri yang melakukannya, belajar direndah hati walau kita sedang kasar kasrnya pun dalam kondisi rendah rendahnya. kenapa anak bungsu saya berusaha menganalogi atau memberi persamaan keadaan yang serupa sebah ini akan menata psikologi kita agar berpacu.

ingat dalam dunia keluarga si bungsu pasti dikenalkan dengan peran orang tua, bolehkan saya memberikan arti posisi, atau kondisi yang mewakilkan arti anak bungsu, orang tua dan anak sulung. 

mengapa orang tua tidak boleh menjadi figur anak bungsu atau secara beban psikologis menjadikan dirinya sebagai yang dipersalahkan, jawabnya adalah waktu kebijaksanaan tidak mengenal kata belajar yang dianggap menjadi alasan untuk boleh salah, ini tidak bisa dibenarkan. orang tua itu adalah posisi yang menjadikan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kader Organik HMI tak lupa ! Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh !!! Bahagialah dindaku Jayalah HMIku Halo kader manis yang setia baca tanpa tahu kalian akan diajak "ngalor-ngidul" kemana. Oke tak apa, yang penting sekarang mau saya perjelas kalau kalian saya ajak membaca kondisi rumahmu ini, ya HMI, lanjut tanpa bahasa basi. Terhitung sudah berbulan-bulan anak HMI mem-proteck dan menyandera diri sendiri kala wabah Pandemi ramai diperbincangkan, lebih sudah 5 bulan terhitung sedari pertengahan Maret 2020 kampus-kampus pun sudah ter- lockdown di seantero Indonesia.  HMI yang cenderung sosialis menjadi "kecut" ketika diminta sadar dan patuh kepada prokes yang berikan pemerintah, boleh jadi ini menjadi sebab timbul pemukiman serangga diantara buku-buku bahan diskusi, tapi tidak semua lelap, untung masih banyak juga keringat yang tetap dirasa cukup ber-kecut-kupan dalam membantu gerakan pengamanan wilayah dan aksi sosial entah sedang bergordon atau include dalam ...

POLITISASI PENDIDIKAN

POLITISASI PENDIDIKAN BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM Terdengar sangar dan nakal ya. Baik politisasi pendidikan, saya kira ini mengandung banyak pro dan kontra, dikotomisasi, dan paradok dalam pendidikan. Pertanyaannya, dmananya kita wajib menyikapi politisasi yang dimagsudkan ☕. Baik secara provesional edukasi wajib mengoraganisir sesuai kesesuaian kemampuan dan guru kepada apa yang diajarkannya. Dasarnya Allah menyukai orang yang mengorganisir. Firman Allah SWT dalam QS. Ash- Shaff / 61 :4, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”  Ditambah untuk meletakkan posisi seseorang sesuai tupoksinya agar tidak terjadi kehancuran.  Nah politisasi disini kita menghindarkan diri dan orang lain agar tidak asal merekrut orang2 penting dalam mengampu pendidikan. Saya menemukan fakta di tempat magang saya ada salah seorang yg bergelah sarjana pertanian s...

Integrasi Ormawa “Selayangkan dan pandangi”

  Organisasi mahasiswa adalah keniscayaan dalam dunia pendidikan perguruan tinggi, dalam ombak dinamika kampus, sudah terbukti mahasiswa sebagai elit pemuda dalam "laku" kajian penelitian dan mengabdi kepada masyarakat, termaktub jelas dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Tajuk yang kita hadapi bersama adalah mengenai bagaimana menjalankan Ormawa dengan benar sesuai kaidah yang baik, terlihat dalam periodesasi kepengurusan dan tupoksi lembaga yang jelas memberikan cermin yang baik kepada halayak pun status kemahasiswaannya mampu memberikan sumbangsi terbesar, dan tidak dengan semena-mena dalam memakai gelar tersebut. Realita sudah sering berdialok dengan sesama Ormawa dalam satu regional bahkan nasional, akan tetapi pandangan pembaruan belum juga memberikan dampak yang memuaskan, seperti pergantian IAIN menuju UIN ini, yang memberikan sejuta keganjilan yang perlu disikapi, seperti periodesasi tidak diimbangi regulasi peremajaan kepengurusan dengan tepat waktu, ini berdamak k...