Baru beberapa jam, kursi hangat sudah akan menguap, mendengar foklor berlauk olahan pohong (jawa:ketela) dimeja.
Semakin nikmat saja sejak saya punya jadwal menginap dirumah lagi, anggap saja pisah ranjang dengan kontrakan sederhana saya yang diakibatkan oleh “pelakor” mbak Corona.
Cerita ini dimulai dari refleksi sejarah panjang para penjelajah Londo, diceritakan bahwa narkoba berjenis opium ini sudah kerap dipergunakan masyarakat Tionghoa juga sejumlah besar orang jawa semenjak 1617, sekitar 400-an tahun silam.
Sepanjang abad ke 17 dan 18 juga Londo melalui VOC memonopoli penjualan opiom dan resmi membuka perkebunannya di Jawa dan Sumatra.
Sebelumnya sudah kenal tike? ini dia penamaan candu di era kakek buyut saya di wilayah Jawa Timur-an yang sudah banyak tersebar coka (bahan kokain) kala itu, tepatnya di era canggah (jawa: ayah kakek) saya, terekam jelas sekaligus saksi ayah nenek buyut saya kisaran itahun 1800 an dan ini adalah NAPZA untuk dewasa ini, saya mengangguk-angguk mendengar cerita ini.
Dahulu, orang Tionghoa banyak memakai dan menjual narkoba Tike ini, iya Tike (Dibaca sama kaya kata "te" dalam kata "pete"), pertanyaannya dijual kesiapa? kebetulan orang dusun ditepian pegunungan di Jawa Timur sini sudah mendapatinya, artinya si Tike ini mudah didapatkan sampai kepelosok dusun di era simbah dari simbah saya, cukup familiar juga dulu.
Bentuknya seperti pasta, yang dibungkus seperti bungkus odol, seukuran cat minyak kecil dan berwarna hitam. Saya juga berusaha memvisualisasi atau berhalu dengan model yang seperti ini, sepertinya kemasan di era 1800 sudah termasuk modern ya, nyaman dikantong dan bisa dibawa kemana saja dan dalam ilmu komunikasi pasar ini sangat mengindahkan pembeli karena terkesal simpel dan praktisable, wahaha.
Harganya pun mahal, dalam bingkai-bingkai narasi yang dipaparkan ayahanda saya, orang toempoe doeloe (biar menjiwai seperti di zaman old, saran dibaca dengan mangaps-mangaps, coba dipraktekin) rela membeli barang adiksi ini dalam jumlah yang terhitung mahal, dalam cerita disebutkan, berpuluh-puluh petak tanah bisa ludes, ternak sapi kebo wedus ayam bisa habis tergadai karena membeli barang nakal ini, sudah kebayangkan berapa harganya?
Sapi sekarang harga berlkisar 15-an jeti dan bisa lebih, berapa duit kalau kita kurskan uang toempo doeloe (Ingat sambil mangaps-mangaps :v ) hanya untuk membeli barang ngehe seperti ini, hem..., tajir juga! tapi sayang tidak bermanfaat! Tambah cerita, ini kalau sudah begini ini, sudah tidak ingat anak istri, yang penting duduk isep, halu, langsung dah sampai kelangit dia.
Ehem, cara pakainya unik ini, seperti pakai sabu yang pake sulut api segala, tapi keluar asep kaya ngisep mariyuana di sinetron lawas. Alatnya bernama umpling atau bedudan, bentuknya lurus seperti pipa dan ujunganya ada lobang buat masukin barangnya, mirip mirip cerutu di film detektif dulu.
Lanjut sistematika cara pakainya, umpling atau cerutu khusus ini dipakai layaknya posisi merokok, nah dalam proses menikmatinya menggunakan tembakau yang disiapkan seujung jari yang diisi dengan cairan pasta hitam kusem kumel kaya mantan (sampai malas saya menyebutnya karena unfaedahnya barang ini) tadi kedalam posisi ujung pipanya, kemudian dibentuk sedemikian rupa menjadi bentuk bulet dengan menyisakan secuil tembakau agar mudah dibakar nantinya.
Tahap selanjutnya disediakanlah bantal untuk bersandar karena surga datang 5 menit kedepan, tutur inprovisasi dari saya saat itu, hahaha. Penggunaannya seperti merokok di cerutu, setelah dibakar dan menyala, maka akan terdengan bunyi mak thek/thes/thuk (letupan kecil "logat jawa") tandanya asap siap dihirup. Tidak berlangsung lama asapnya akan masuk keparu-paru dan si pengguna akan menahan keluar pelan-pelan agar mendapat sensasi surgawi seperti yang saya sampaikan tadi. Uhhh.
Selesailah tutorial mengenai sistematika menghisap Tike yang benar. Akan tetapi sayang beribu sayang, seluruh adegan yang vulgar ini tidak bisa kita praktekan ya saudara and friend setia baca, ini hanyalah sisa sejarah Tike yang menjadi momok yang meresahkan generasi anak muda saat ini. Menurut hemat saya, budaya mengkonsumsi candu seperti Tike ini sudah terjadi beratus-ratus tahun silam dan menjadi pelajaran penting bahwa segala jenis barang adiksi berlebih adalah buruk bagi kehudupan terlepas dari pada kasiat medis yang ditawarkannya, so anda masih mau kepo?
Saya muda dan saya tidak ng-OBAT!!!
Saya muda dan saya t-OBAT!!!
muhamad singgih gumiwang
Komentar
Posting Komentar