"Ketika
pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan
terakhir ditangkap, Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat
memakan uang." Eric Weiner.
Tanyakan kepada sepotong kayu yang
tertanam dalam-dalam, di pinggir jalan yang satire kepada usaha keras dan
besar-besaran manusia modern dalam mencari kebahagiaan. Implikasi langsungnya
adalah tentang kepada kekayaan, maka adalah uang sebagai orientasinya, termotifasi dari perjalanan Eric Weiner
di Negara Bhutan, Negara Naga Guntur di pelataran Asia Selatan. Juga, tersurat di
dinding almari kusam bekas bukti kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam, yang sudah
mengalami perubahan magna karena
sudah terbukti mengalami pergeseran
aktivitas serta tindakan-tindakan sosialnya.
Sangat disayangkan marwah Pecinta Alam itu penulis temukan, dan mengharuskan penulis dan pembacanya untuk meneruskan kembali tongkat estafet, akan keberpihakan kita kepada lingkungan sekitar, lingkungan tempat tinggal berbagai perilaku manusia yang harus disatukan kembali dengan tujuannya sama yaitu revitalisasi fungsi sungai. MERDEKAKAN SUNGAI KAMI!
Sangat disayangkan marwah Pecinta Alam itu penulis temukan, dan mengharuskan penulis dan pembacanya untuk meneruskan kembali tongkat estafet, akan keberpihakan kita kepada lingkungan sekitar, lingkungan tempat tinggal berbagai perilaku manusia yang harus disatukan kembali dengan tujuannya sama yaitu revitalisasi fungsi sungai. MERDEKAKAN SUNGAI KAMI!
Sungai identik dengan beragam fungsinya sesuai karakteristik dan kebutuhan lokal wilayah masing-masing, Tulungagung memiliki potensi aliran sungai yang bagus untuk pertanian, tapi yang patut di permasalahkan adalah kendali sampah atas pembuangannya ke sungai-sungai.
Sampah yang pertama adalah sampah berjenis buangan dari hasil rumah tangga, baik berbentuk cairan pekat, sampah plastik, bayi, kompos, dan berbagai logam, yang sangat berpengaruh untuk merusak citra, estetika, fungsi dan kebermanfaatannya tentu. Sampah selanjutnya adalah sampah limbah pabrik, dan banyak limbah lain yang sangat berbahaya, beracun dan berbau menyengat.
Menurut Direktur Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi, Mohamad Ichwan di Tulungagung:” Pencemaran yang terjadi sudah masuk kategori skala berat karena banyak biota sungai yang saat ini sudah punah,” tambah beliau: “Pencemaran Kali Ngrowo telah menyebabkan hilangnya biota asli sungai seperti ikan wader, ikan loh, udang, betek, sepat dan jenis ikan–ikan lain yang sekarang sudah tidak dijumpai lagi di sungai itu,” Sudah jelas jelas fungsi sungai sebagai aliran alami habitat bagi satwa endemik tulungagung, terutama pada kekayaan sumber ikan lokas sudah sulit bahkan tidak ditemukan di sepanjang kali Ngrowo.
Solusi
Dalam setiap kehidupannya manusia atau berinteraksi langsung dengan sungai dan model berbagai kondisi, mausia harus tetap mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan alam maupun sosial dan budaya. Proses penyesuaian diri manusia dilakukan melalui pembelajaran kultural (cultural learning), sehingga memungkinkan manusia untuk membentuk dan mengembangkan kehidupan dalam lingkungan ekologi tertentu.
Dengan berbagai kemampuan akal atau budinya, manusia telah mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi keperluan hidupnya.
Dalam setiap kehidupannya manusia atau berinteraksi langsung dengan sungai dan model berbagai kondisi, mausia harus tetap mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan alam maupun sosial dan budaya. Proses penyesuaian diri manusia dilakukan melalui pembelajaran kultural (cultural learning), sehingga memungkinkan manusia untuk membentuk dan mengembangkan kehidupan dalam lingkungan ekologi tertentu.
Dengan berbagai kemampuan akal atau budinya, manusia telah mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi keperluan hidupnya.
Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah
“kebudayaan”, karena hanya amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang tidak perlu dibiasakan dengan belajar. Manusia akan selalu
berhubungan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan berhubungan itu
manusia menyampaikan maksud dan tujuan, sedangkan untuk mencapai keinginan itu
harus diwujudkan melalui tindakan yang bersifat timbal balik. Kehidupan
masyarakat dan kebudayaannya bersifat dinamis produktif tidak negatif, sebab para warganya selalu mengadakan hubungan satu dengan
lainnya baik dalam bentuk orang per orangan maupun dalam kelompok lingkungan-sosial.
Guna menciptakan kundusifitas serta gerakan produktif masyarakat Tulungagung mengenai pemilahan sampah, pendaur ulangan sampah, sampai pembuatan produk-produk bersumberdaya sampah buangan, akan mengurangi laju ketidakbermagnaan sampah yang pada hari ini menjadi problem yang utama di masyarakat Kali ngrowo tentunya. Kali ngrowo akan di buat percontohan kembali wisata edukatif, yang berisikan pengolahan limbah/sampah, tempat yang nyaman untuk sosialisai bencana, baik bencana dari aktifitas buruk manusia dan tanggap bencana dari aktrifitas alam.
Guna menciptakan kundusifitas serta gerakan produktif masyarakat Tulungagung mengenai pemilahan sampah, pendaur ulangan sampah, sampai pembuatan produk-produk bersumberdaya sampah buangan, akan mengurangi laju ketidakbermagnaan sampah yang pada hari ini menjadi problem yang utama di masyarakat Kali ngrowo tentunya. Kali ngrowo akan di buat percontohan kembali wisata edukatif, yang berisikan pengolahan limbah/sampah, tempat yang nyaman untuk sosialisai bencana, baik bencana dari aktifitas buruk manusia dan tanggap bencana dari aktrifitas alam.
Lokasi yang strategis, pengembangakan fokus area, interaksi ruang
publik yang dibalut dalam model multi edukasi terhadap pengendalian mutu
tatanan kota, wisata, tempat kongkow bareng pemuda, sarana belajar bersama-sama
yang memberikan rasa cinta terhadap kekayaan daerah sehingga daya tarik
kedepannya sebagai lokasi percontohan/ figur baru tatanan kota yang berhasil
memerdekakan dirinya dari berbagai tantangan perilaku negatif manusia.
Fokus pengembanga lokasi dimulai dari:
1. Kebersiahan aliran sungai sebagai
pos-pos edukasi langsung tindakan preventif bencana.
2. Membuat konsep Bank Sampah Edukatif seperti
di desa tetangga seperti di Bolorejo, dengan dipadukan dengan warung kopi
edukasi sebagai ciri khas daerah,
Kegiatan ini merupakan kajian
terapan dan edukasi masyarakat yang
dilakukan dengan menggunakan metode partisipasi-emansipatoris. Kegiatan edukasi
kepada masyarakat diberikan melalui pelatihan yang diberikan berupa pelatihan
wirausaha untuk mengelola bank sampah dan pelatihan daur ulang sampah menjadi
produk daur ulang, baik pupuk kompos dan barang kerajinan dari sampah daur
ulang. Bank sampah yang dikembangkan di Kampung Karangresik ini diberi nama
Bank Sampah Pucuk Resik (BSPR).
Fokus pembinaan kepada warga perempuan yang menjadi pengurus PKK
setempat, sebagai role model bagi warga perempuan lainnya, dengan penyebaran
sosialisasi berlangsung secara getok tular, informasi disebarkan saat kegiatan
rutin PKK, pengajian, dan pertemuan warga.
Secara garis besar penerapan metode dilakukan sebagaimana berikut
ini, yaitu dengan melakukan pendekatan kepada warga dan stakeholders. Dengan
warga dilakukan dengan interaksi dan komunikasi tatap muka melalui dialog dan
pertemuan-pertemuan dengan warga di komunitas, tidak hanya pada saat kegiatan
sosialisasi dan edukasi dilakukan.
Dengan stakeholders dilakukan dengan mengupayakan adanya dialog dan kerja sama, khususnya pemerintah daerah setempat (di level kelurahan, kecamatan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota), pengumpul/pengepul, pengangkut/pemulung sampah, dan pengembangan kerja sama yang bersifat multi-stakeholder dengan pihak LSM maupun pihak swasta di tingkat lokal maupun regional.
Dengan stakeholders dilakukan dengan mengupayakan adanya dialog dan kerja sama, khususnya pemerintah daerah setempat (di level kelurahan, kecamatan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota), pengumpul/pengepul, pengangkut/pemulung sampah, dan pengembangan kerja sama yang bersifat multi-stakeholder dengan pihak LSM maupun pihak swasta di tingkat lokal maupun regional.
3. Membantu masyarakat mengajukan fasilitas
penunjang kebersihan.
4. Melihat kondisi cuaca yang mulai hujan,
nantinya akan di adakan sosialisasi tanggap bencana juga untuk daerah yang
berpotensi banjir, dengan bidang PK (pencegahan dan kesiap-siagaan) di BPBD
Tulungagung.
5. Potensi perkembangan wisata edukasi,
menggali ide-ide dari dan kepada masyarakat sampai implementasi berjenjang dan
dengan partisipasi aktif desa.
6. Menciptakan kerukunan dengan semangat
religiousitas antar elemen masyarakat dengan gerakan aktif membangun desa.
7. Meguatkan kembali Geraka Mahasiswa
Pulang ke Desa.
8. dan seluruh agenda yang berpotensi untuk
pengembangan masyarakan agar kebih bermutu AYEM TENTREM MULYO LAN TINOTO. (msg)
Komentar
Posting Komentar